Belajar dari Keindahan

ليس الجمال بالأشكال وإنما الجمال بالأخلاق والأفعال

Keindahan itu bukan hanya sekedar fisik, bukan pula materi, keindahan jauh dari pada apa yang nampak dari luar dan terlihat oleh mata, yang menjadi tolak ukur keindahan adalah akhlak dan perbuatan

Allah SWT adalah zat yang paling indah, namun demikian Dia lebih memilih untuk memperlihatkan keindahanNya lewat ciptaanNya, bukan dengan tampil indah dengan wujudNya

Bahkan keindahan wujudNya hanya bisa dinikmati dan dilihat di surga bagi mereka yang temasuk dalam golongan hambaNya yang berakhlak indah

Nabi yusuf A.s adalah manusia dengan rupa yang paling indah, namun sekalipun Allah tak pernah memuji keindahan yang nampak dari rupanya, tapi pujian dariNya datang dari keindahan yang nampak dari perbuatannya

إنه من عبادنا المخلصين

Begitupun dengan baginda Rasulullah SAW, beliau termasuk diantara mereka yang memiliki rupa dan wajah yang indah, namun kembali Allah memujinya karna keindahan akhlaknya

وإنك لعلى خلق عظيم

Keindahan yang Allah anugrahkan kepada mereka yang dikehendakiNya wajar dan wajib untuk disyukuri, tapi dengan apa mensyukuri nikmat tersebut ??

Jadikan keindahan tersebut bisa dirasakan oleh orang disekitar kita bukan hanya sekedar apa yang bisa dinikmati mata saja, tapi bisa dirasakan hati yang selalu dicurahkan oleh keindahan yang nampak dari akhlak dan perbuatan kita

Bagi kamu yang sudah merasa indah, jangan pernah merasa cukup dengan itu, karna itu hanya titipan dan bukan millikmu, biarkan keindahanmu seirama dengan keindahan akhlak dan perbuatanmu

Begitipun dengan sebaliknya ”u know”, jangan pernah berkecil hati karna masih banyak keindahan yang bisa kamu lakukan dan tebarkan lewat akhlak dan perbuatanmu

Apapun itu syukuri dan syukuri dan syukuri !!!

Makassar, 22 Mei 2018

Penulis: Zamakhsyari

Jingga

Tatapan panjangku memandang alam semesta begitu indah gambarannya. Jingga  silau kemilau warnamu di sore ini. Ada keinginan mendalam yang lama didambakan qalbu. Keinginan untuk memiliki seseorang sebagai pelipur lara. Mungkinkah Jingga? Jika aku ingin memilikimu. Namun apalah daya seorang hamba yang hanya bisa mengharap pemilik semesta berbaik hati. Bukankah ketetapan akan kebersamaan telah diatur oleh-Nya. Adakah jalan untukku jika semua telah ditetapkan begitu saja, tanpa adanya peluang bagi Aku “Manusia” untuk memilih. Memilih mengadakan Jingga di hati dan disisiku.

Itulah Aku beberapa dekade yang lalu, ketika kemilau cahaya matahari sore menyinari wajahku dan konsep Jingga menyatu dipikiranku. Jinggaku kini telah hadir di dunia, sebuah keberadaan yang meluluh lantakkan konsep fanatisme keber-Agamaan yang tertanam di dalam hatiku. Konsep dimana ketetapan takdir yang mulanya kaku, kini mulai terang benderang. Jingga kini ada sebagai bukti keberadaan bahwa kebebasan memilih masih menjadi anugrah pencipta yang terindah untuk aku dan jingga.

 

Makassar, 22 Mei 2018

Penulis: Andi Nuraisyah Rusnali

Belajar dari Kesederhanaan

Kehidupan di dunia ini sungguh luar biasa dan tidak bisa kita prediksi. Ada banyak hal yang kelihatannya sederhana namun menyimpan banyak kerumitan di dalamnya. Salah satu ilmu yang mempelajari akan hal ini adalah “Filsafat”. Dalam berfilsafat ada dua metode berfikir yang bisa digunakan yaitu pertama berpikir Deduktif yakni berpikir dari hal-hal umum terlebih dahulu yang kemudian diarahkan ke hal-hal yang khusus. Kedua metode berpikir Induktif yakni berpikir dari hal-hal khusus selanjutnya diarahkan ke hal-hal umum. Lebih lanjut saya hanya memperkenalkan kedua metode berpikir tersebut dan tidak untuk saya bahas dalam kesempatan ini. Berangkat dari metode berpikir tersebut, kita dapat mengungkap, memahami, mempelajari sebuah kesederhanaan dari sebuah keberadaan.

Pernahkah kita memperhatikan Matahari yang selalu menemani kita sejak bangun pagi hingga petang. Atau adakah diantara kita yang tidak pernah peduli, “Buat apa pusing dengan matahari, pekerjaan saja menumpuk” atau ada yang berkata demikian “Matahari terbit itu biasa, yang tidak biasa ketika matahari sudah tidak terbit lagi. Jadi buat apa pusing dengan keberadaan Matahari”. Sebagian besar manusia seperti itu, namun ada sebagian kecil lainnya yang berbeda, sebut saja PENULIS “hehehe”. Bercandanya cukup, mari kita mulai serius. Ada beberapa kata yang penulis garis bawahi yaitu Kesederhanaan, Filsafat, dan Matahari. Jadi kesimpulannya adalah Belajar Kesederhanaan dari Matahari dengan cara berfilsafat, terserah mau menggunakan metode induktif atau deduktif.

Bersambung …….

Ruang Tanpa Warna

Kadang ketika aku ingin mengetahui sesuatu, kulakukan beragam cara. Ada banyak pilihan cara yang terlintas di kepala, dan beberapa terpilih untuk menjadi sebuah alat.

Ia hanya sebuah alat. Begitulah aku memandangnya. Perbedaan sudut pandang itulah yang membuat orang lain beranggapan beragam. Ada yang positif dan sangat banyak yang negatif.

Tapi sekali lagi, pikiranku menganggap semua itu hanyalah alat. Sebagaimana seorang peneliti, pastilah punya beragam alat untuk menguji validitas penelitiannya, sehingga diperoleh kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Ingatlah ini hanya ruang, ruang tanpa warna. Dimana hitam dan putih tak dapat dibedakan.